Pentingnya Pendidikan Agama bagi Anak
مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ
Artinya, “Tidak ada seorang bayi pun yang dilahirkan melainkan atas dasar fitrah, maka kedua orang tuanya-lah yang kemudian menjadikannya menjadi seorang Yahudi, Nasrani atau Majusi. Sama halnya dengan seekor hewan ternak yang melahirkan anaknya dengan sempurna, maka apakah kalian melihat cacat pada hewan tersebut.”
Kemudian Nabi Muhammad saw membaca Al-Qur'an surat Ar-Rum ayat 30.
فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Artinya, “Tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS Ar-Rum: 30)
Dalam teks hadits yang lain: “Semua anak dilahirkan atas fitrah sampai lisannya mampu mengutarakan keinginannya. Maka ketika lisannya dapat mengutarakan keinginannya sendiri, maka adakalanya ia menjadi orang yang syukur dan adakalanya ia menjadi orang yang kufur.
Islam sangat memperhatikan aspek-aspek yang berkaitan dengan pendidikan yang baik dan akhlak terpuji. Wajib bagi orang tua, bapak dan ibu untuk mendidik anak sejak dari awal pertumbuhannya, supaya anak terbiasa dengan kebaikan dan terjaga dari keburukan. Ada beberapa hadits Nabi Muhammad saw berkaitan pendidikan terhadap anak.
Pertama, pentingnya Aspek Pendidikan Agama. Nabi Muhammad saw sangat memperhatikan aspek pendidikan agama, hal ini bisa kita lihat dalam hadits di atas yang mengisahkan bahwa pada suatu malam Nabi SAW mendekap bayi mungil Abdullah bin Abbas, kemudian beliau mendoakannya, “Ya Allah jadikanlah ia seorang yang alim ilmu agama, dan ajarkanlah ia tafsir Al-Qur’an.”
أَتَاهُ عَبْدُ اللهِ اِبْنُ عَبَّاسِ رضي الله عنهما بِوُضُوْئِهِ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَضَمَّهٌ إِلَيْهِ وَدَعَا لَهُ بِقَوْلِهِ صلى الله عليه وسلم: «اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي
الدِّينِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ» رواه البخاري وأحمد،
Menurut para ulama berkah do’a Nabi inilah kemudian Abdullah bin Abbas menjadi seorang sangat mencintai ilmu, sehingga ia berhsil menjadi ulama yang alim dan menguasai tafsir dan beliau mendapat julukan Turjumanul Qur’an.
Kedua, aspek Pendidikan Akhlak dan Suri Tauladan yang Baik. Nabi Muhammad saw memberikan tuntunan akhlak yang sangat mulia kepada anak-anak kecil, hal ini bisa kita baca dari hadits berikut:
يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ». فَمَا زَالَ تِلْكَ طَعْمَتِي بعد. رواه البخاري ومسلم
“Wahai anakku, bacalah basmalah, kemudian makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang terdekat denganmu.”
Ketiga, menanamkan nilai-nilai kejujuran. Dalam mendidik anak juga sangat perlu menanamkan nilai-nilai kejujuran. Dalam sebuah hadits dijelaskan.
وَقَالَ عَبْدُ الله اِبْن عُمَر رضي الله عنه: دَعَتْنِيْ أُمِّيْ يَوْمًا وَرَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم قَاعِدٌ فِي بَيْتِنَا فقالت: هَا تَعَال أَعْطَيْكَ. فَقَالَ لَهَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «وَمَا أَرَدْتِ أَنْ تُعْطِيهِ» قالت: أَعْطَيْهُ تَمَرًا. فقال لَهَا رسول الله صلى الله عليه وسلم: «أَمَا إِنَّكِ لَوْ لَمْ تُعْطِيهِ شَيْئًا كُتِبَتْ عَلَيْكِ كِذْبَةٌ» رواه أبو داود وأحمد
Artinya, "Sahabat Abdullah bin Umar, pada suatu ketika bercerita bahwa ia dipanggil ibunya, dan pada saat itu Nabi berada di rumahnya. Ibunya memanggil “Abdullah kemarilah, aku akan mengasihmu sesuatu.” Nabi bertanya “Bukankah kamu tidak akan memberikan sesuatu ?” Ibunya menjawab “Aku akan memberinya sebuah kurma.” Nabi bersabda: ”Sungguh, seandainya kemudian kamu tidak memberinya sesuatu, maka kamu dicatat melakukan kebohongan."
Keempat, mengajarkan shalat sejak kecil. Shalat menjadi bekal utama dalam mengarungi kehidupan, sehingga bagi orang tua sangat dianjurkan untuk mengajarkan shalat kepada anaknya. Dalam hadist disebutkan.
مُرُّوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعُ سِنِيْنَ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٌ، وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِيْ الْمَضَاجِعِ".
Artinya, “Perintahkanlah anak-anakmu untuk melaksanakan sholat ketika mereka menginjak umur tujuh tahun, dan pukullah mereka jika meninggalkannya ketika mereka berumur sepuluh tahun. Dan pisahkanlah tempat tidur mereka “.
Pesan Nabi Muhammad saw dalam hadits tersebut mengandung perintah melaksanakan shalat. أَمْرُ الْأَوْلَادِ بِالصَّلَاةِ لِسَبْعٍ Kewajiban kedua orang tua, bapak dan ibu, untuk memerintahkan anak-anaknya melaksanakan shalat wajib. Sedari kecil, semenjak usia dini, tujuh tahun. Mengapa, karena begitu penting dan agungnya nilai sholat dalam Islam, ia merupakan tiang agama. Kemudian yang kedua adalah sholat merupakan wasilah hubungan vertikal antara seorang hamba dengan Tuhannya. Dengan membiasakan sholat, seseorang akan dapat terbiasa dengan perbuatan-perbuatan baik dan akhlak yang mulia dan diberikan sifat istiqamah.
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ [العنكبوت: ٤٥ ]
Artinya, “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Quran dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Ankabut :45)
ضَرْبُ الْأَوْلَادِ عَلَى تَرْكِ الصَّلَاةِ لِعَشْرٍ Perintah melaksanakan shalat dan memukulnya ketika anak sudah berumur sepuluh tahun. Mengapa, karena anak sudah mulai menginjak usia akil baligh, dan mendapat taklif kewajiban melaksanakan sholat dalam kondisi apapun.
Kelima, memisahkan tempat tidur mereka sejak usia sepuluh tahun. اَلتَّفْرِيْقِ بَيْنَ اْلأَوْلَادِ فِيْ الْمَضَاجِعِ Nabi menganjurkan untuk memisahkan tempat tidur orang tua dan anak, maupun tempat tidur antar saudara kandung yang laki-laki dan perempuan, sejak anak mendekati usia baligh. Sebagai perintah agama, tentu hal ini bertujuan untuk menghindari hal-hal buruk yang bisa saja terjadi, karena adanya bisikan syaitan. Dan setidaknya untuk membiasakan anak dengan apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan dalam agama. Untuk itu, sebagai orang tua kita harus semakin ketat terhadap anak, khususnya dalam membentengi mereka dari pengaruh negatif teknologi dan budaya yang tidak islami. Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an Surah At-Tahrim ayat 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, para penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
Waallahu ‘alam bishowab.
Demikian semoga bermanfaat
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Sample Post 1
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco l
Sample Post 2
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco l
Sample Post 3
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco l
Sample Post 4
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco l
